November 2014 ~ Rizki's Blog

Tuesday, 25 November 2014

Memotivasi Diri Sendiri

Halo halo halo akhirnya gue ngepost lagi. Oke sorry banget ya gue gatau buka postingan kayak gimana atau pake macam apa lah itu ga ngerti karena gua juga tadi sahur ga makan apa-apa(?). Gue posting ini gatau mau ngapain, tapi yang pasti ini cuma jadi pelarian gue karena males belajar. Males belajar? iya gue emang males belajar dasarnya, tapi yang ini beda malesnya karena besok ulangan akhir semester. Hmm, pas emang, posting disaat malam yang bener-bener sunyi, juga angin malam yang dingin namun sejuk juga(?) yang bisa membuat jari jemari ini mengetik dengan senangnya. Serta dengan disuguhinya ampas kopi sama kertas gorengan yang begitu buat gue semangat buat posting.

Gak tau kenapa gue bisa sesantai ini menghadapi ulangan akhir semester yang sedang berlangsung ini. Masih aje gue posting di blog gue yang terbilang kumuh gara-gara saking dikitnya pengunjung blog. Adapun sedikit, tapi kagak pernah kasih jejak buat blog ini. Oh iya, gue sampai lupa mau bicarain apa. Gue tuh barusan banget lagi baca-baca yang namanya kata-kata bijak dari para pakar gitu. Dan tau apa? gue menemukan kata-kata yang menggambarkan gue banget. Gue bangeeeudh! gue. banget! Dan menggambarkannya itu mirip kondisi gue saat mengerjakaan ulangan tadi hari. Begini kata-kata nya:

”Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah bukan karena yang satu memiliki kemampuan dan ide lebih baik, tapi karena dia berani mempertaruhkan ide, menghitung risiko, dan bertindak cepat.” Andre Malraux (1901-1976), sejarawan Prancis

Gila, sob! bayangin, yang ngomong itu sejarawan prancis. Bisa diartikan dari quotes diatas bahwa kemampuan dan ide yang bagus itu belum tentu bisa bikin lo sukses, sob! Yang terpenting adalah dimana lo harus mempertaruhkan ide lo, men. Dan risiko yang bakal didapet jika lo pertaruhin itu, serta juga bertindak cepet. Dan yang menggambarkan gue banget saat ngerjain ulangan adalah gue berani mempertaruhkan ide jawaban gue alias jawaban ngasal gue, sob! Dan juga bertindak cepet. Iya gue bertindak cepet, sesaat gue selesai, tanpa pikir panjang gue langsung kumpulin tuh LJK gue. Gue juga udah menghitung risiko yang gue dapat. Bisa liat dong ya mana orang sukses mana orang gagal...

Nah iya, sesaat gue menghitung risiko salah gue, Udeh gak diragukan lagi... banyak yang salah. Namun gue gak bersedih hati langsung, sob. Setelah itu gue dapet kata-kata bijak yang memotivasi diri gue sendiri. Begini kata-kata nya:

”Hidup tidak akan hidup jika Anda tidak membuat kesalahan.” Joan Collins, artis Inggris

”Mereka yang berani mengambil risiko kemudian gagal, itu bisa dimaafkan. Mereka yang tak pernah mengambil risiko dan tak pernah gagal, ini adalah kesalahan manusia sepanjang hidupnya.” Paul Tillich (1886-1965), filsuf dan teolog Amerika Serikat kelahiran Jerman


Keliatan kan, idup gak akan idup kalo kita gak buat kesalahan. Lebih baik kita buat kesalahan dalam mencoba sesuatu, tapi jangan diartiin sebagai buat maksiat juga. Dan kalimat bijak yang satunya lagi ini, mengartikan bahwa berani ambil risiko dan gagal, itu masih bisa dimaafin. Jadi gapapa, sob, kalo banyak salah pas ngerjain ulangan. Karena disaat itu juga lo akan belajar bangkit dari keterpurukan. Dan menjadi sukses. Bisa liat dong ya yang mana orang sukses mana orang gagal...

Oh iya dan satu lagi:
”Kemuliaan paling besar bukanlah karena kita tidak pernah terpuruk, tapi karena kita selalu mampu bangkit setelah terjatuh.” Oliver Goldsmith (1730–1774), novelis, pujangga, dan dramawan Irlandia

Jadi keliatan lah, lo mesti banyak-banyakin jatoh dari sekarang, biar lo bisa banyak-banyak bangkit dan jadi orang yang mulia, sob! Lagian Deddy Corbuzier yang botak itu bilang masa depan lo bukan berdasar dari nilai lo pas di sekolah kok. Dan gua pernah denger dari Indomaret Offiial Account LINE (sumpah gue gak add account official nya, gue gak sejomblo itu) kalau Dahlan Iskan bilang suruh perbanyak salah selagi muda, abisin jatah salah lo. Jadi perbanyak salah selagi muda sekarang. Selagi lo masih anak SMA. Jangan malu, lo minta es batu di sevel, minta saos sambel di KFC, dan refill minuman tanpa bayar lagi di Burger King juga masih dibilang wajar kok (kayaknya gak tau malu sih ya). Masih pelajar juga. Coba orang kantoran, dibilang apa nanti, udah bisa nyari uang minta es batu karena malu minta uang sama ortu (padahal lebih malu minta es batu di sevel). Jadi... yaudah itu nilai moralnya...

Friday, 14 November 2014

Situasi

Sebagai perawalan, saya pernah menulis kata-kata masa sulit sebelumnya di blog ini, dan tak tahu kenapa saya ingin menulisnya lagi. Bukan karena saya sedang merasakan masa sulit saat seperti waktu itu, namun hanya ingin membahas pengalaman banyak orang. Mungkin hanya sedikit saja yang saya tahu, namun saya sangat ingin mengertikan 'situasi' mereka disaat mereka berada di masa sulit.

Sebelumnya, bilamana di sebuah untaian kata disini ada sesuatu yang mencerminkan saya, saya bukan ingin mencurahkan semua isi hati saya. Saya ulangi, hanya untuk membahas persoalan 'situasi' orang-orang tatkala sedang dalam masalah.

Ada yang begitu tertekan disaat mereka sedang ada masalah besar. Dan ada juga yang tidak begitu tertekan, namun itu dari visualnya saja. Karena dibalik itu, sebenarnya ada cerita lain di kepribadian mereka. Karena setiap orang pasti punya masalah.

Saya begini bingungnya ketika kebanyakan orang jika sedang dinasihati. Mengapa mereka tidak hanya mendengarkan dan menerima nasihat orang lain itu? Ya walaupun, mereka tidak menelannya mentah-mentah begitu saja. Karena disaat mereka bilang, "Lo nggak tau yang gue rasain", mereka tidak pernah berpikir ada yang merasakannya seperti mereka namun lebih, bukan tidak pernah, atau mungkin belum.

Disaat semuanya kembali kepada mereka seperti sedia kala, apa mereka ingat orang-orang disana yang pernah memberikan mereka nasihat? Apa mereka ingat betapa peduli nya orang-orang yang memberikan mereka nasihat? Walaupun orang-orang yang memberikan nasihat kepada mereka, tidak bisa sama sekali meluruskan lika-liku masalah yang mereka hadapi saat itu.

Maaf jika saya membahas ini dengan subjek 'mereka' dan 'orang-orang yang memberi nasihat'. Karena saya tak ingin sama sekali menyinggung perasaan pembaca, ataupun perasaan saya sendiri. Memang pembahasan ini begitu tercermin kepada kebanyakan masalah kita.

Mungkin saya bodoh membahas ini, namun saya hanya ingin menyadarkan mereka semua, dan termasuk juga saya. Wajar jika saya pernah salah, karena saya tidak ingin merasa jadi orang yang paling benar juga.

 

Copyright @ 2013 Rizki's Blog.